Line Pasifik Antar Bakti
KASEPUHAN

GELARALAM

Kasepuhan Gelaralam adalah salah satu masyarakat adat yang ada di Jawa Barat. Hingga hari ini Kasepuhan Gelaralam erat hubungannya dengan padi, segala aktivitas masyarakatnya berpusat pada sistem pertanian padi. Di tempat tersebut kita masih bisa menyaksikan secara langsung bagaimana cara hidup Masyarakat Sunda lama.

Semua hal yang berhubungan dengan padi diolah menggunakan alat-alat tradisional. Dalam konteks ini, masyarakat Kasepuhan Gelaralam memiliki pepatah Ciri sabumi Cara Sadesa, Sacarana-sacarana, yang berarti setiap daerah memiliki cara atau adat istiadatnya masing-masing, dan tentu berbeda-beda. Masyarakat Adat Kasepuhan Gelaralam masih menggunakan aturan-aturan adat secara turun-termurun dari leluhurnya.

Kapamalian atau pantrangan di kampung adat ini masih sangat diterapkan. Masyarakat kasepuhan dilarang menjual belikan beras dan nasi, menggunakan kendaraan untuk membawa padi, dan mengolah lahan pertanian dengan traktor. Guna untuk tetap menjaga kelestarian adat dan tradisi leluhurnya.

ABAH UGI SUGRIANA RAKASIWI

KETUA ADAT KASEPUHAN GELARALAM

TENTANG KAMI

SEJARAH

Dalam tradisi Kasepuhan Gelaralam dikenal istilah ngalalakon (perpindahan) dan wangsit (petunjuk) yang hanya dimiliki oleh Abah sebagai Ketua Adat. Dalam catatan lokal Masyarakat, Kasepuhan Gelaralam telah melakukan 20 kali perpindahan berdasarkan wangsit/petunjuk ketua adat. Adapun ciri pasti yang mereka terapkan adalah ketika tanah sudah mulai tidak bisa ditanami atau padi yang kurang ketika masa panen, maka kemungkinan mereka akan melakukan perpindahan ke suatu tempat yang dinamakan Awisan. Awisan berarti tempat yang dijanjikan oleh leluhur Pancer Pangawinan untuk dijadikan tempat atau kampung baru, biasanya terdapat ciri pada tiap awisan, sehingga Masyarakat Pancer Pangawinan dapat membedakan antara Awisan dan Tarikolot.

Kasepuhan Gelaralam adalah pergantian nama dari Kasepuhan Ciptagelar. Kasepuhan ini berdiri sejak tahun 1368 hingga sekarang. Kasepuhan Gelaralam merupakan pecahan dari Masyarakat Pancer Pangawinan yang mengawali sejarahnya dari Kampung Tarikolot Cipatat Bogor yang terbagi menjadi tiga Kasepuhan di sekitar Banten dan Sukabumi meliputi: Kasepuhan Citorek, Kasepuhan Cicarucub, dan Kasepuhan Gelaralam. Ketiga Masyarakat Pancer Pangawinan tersebut mempunyai satu Tradisi yang sama yaitu Tradisi menjaga Tali Paranti Karuhun yang masih diterapkan hingga hari ini.

Pancer Pangawinan adalah kelompok komunitas yang telah ada dari tahun 1300 M, ditandai dengan adanya Kampung Tarikolot Cipatat Urug di Bogor. Ciri masyarakat pancer pangawinan adalah budidaya padi ladang (huma). Selain itu, kebiasaan komunitas pancer pangawinan adalah berpindah-pindah, dengan adanya foklor atau cerita rakyat mengenai batara tujuh. Secara epistimologi kata Pancer berarti pusat, kata Pangawinan berarti tempat berkawin. Pancer Pangawinan berarti tempat penyelarasan dua unsur dalam kosmologi Sunda.

KASEPUHAN GELARALAM

JADWAL ACARA KEGIATAN ADAT 2026

BERITA & KEGIATAN

BLOG

Geser untuk melihat lainnya

TESTIMONI